Blog Archives

Edisi 20; Belajar Qona’ah dari Imam Ali dan az-Zahra

itrah 20; belajar qonaah dari imam aliKita semua sudah mengetahui betapa sederhananya kehidupan rumah tangga Sayyidah Fathimah dan Imam Ali a.s. Tak ada yang belum pernah mendengar kisah betapa Imam Ali harus bekerja keras mencari nafkah dan Sayyidah Zahra harus kelelahan menggiling gandum. Padahal, mereka berdua adalah putri dan menantu Nabi Besar Muhammad SAWW, yang juga menjadi pemimpin umat Islam pada masa itu. Namun, dalam kehidupan yang sedemikian sederhana, keduanya mampu menciptakan keluarga yang patut dijadikan teladan bagi kaum muslimin. Kehidupan keduanya penuh dengan limpahan kasih sayang. Imam Ali a.s. mengenang kehidupannya bersama putri Nabi itu dengan mengatakan, “Fathimah tak pernah kesal di tanganku dan dia juga tidak pernah membuat aku kesal. Aku tak pernah memaksanya melakukan sesuatu dan dia juga tak pernah mengganggu pikiranku. Dia tak pernah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan batinku. Setiap aku memandang wajahnya, semua dukaku hilang dan aku lupa pada rasa sakit yang kuderita.”

Rumah tangga mereka sungguh dipenuhi keindahan. Mungkin kita memang tidak akan bisa menyamai mereka karena kita bukan Sayyidah Zahra dan Imam Ali. Tapi, kits bisa menapaki jalan mereka dan mengikuti gays hidup mereka. Salah satu gaya hidup Sayyidah Zahra dan Imam Ali adalah qanaah (merasa cukup). Apakah qanaah itu sebenarnya dan bagaimana manfaat hidup qanaah itu? Simak pembahasannya dalam `Itrah edisi Februari ini. Semoga membawa manfaat bagi kits semua dalam menjalani kehidupan.

Wassalam

Advertisements

Edisi 19; Fanaitisme, Boleh atau Tidak?

terbit itrah edisi 19 fanatisme boleh apa tidalAssalamualaikum ww

Nabi Muhammad SAWW diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak manusia. Lewat kesabaran dan kasih sayang yang tak ada tandingannya, beliau berusaha menyadarkan ummat, membimbing, dan mengarahkan mereka ke jalan yang benar. Nabi Muhammad membawa ajaran sempurna untuk manusia yang memperhatikan dua dimensi penting kehidupan manusia; jasmani dan ruhani. Ajaran yang dibawanya adalah ajaran yang menempa manusia agar layak menjadi khalifah Allah SWT di muka bumi. Dalam tugas mulianya itu, Rasulullah menghadapi banyak sekali rintangan. Salah satunya, masyarakat Arab saat itu memiliki sistem kesukuan yang sangat kental fanatismenya (ta’assub).

Menurut Imam Khomeini (ra), fanatisme merupakan salah satu sifat yang membuat manusia memihak dan membela keluarga serta segala sesuatu yang terkait dengan dirinya seperti agama, mazhab, tanah kelahiran atau pekerjaan. Fanatisme terbagi dua; fanatisme terpuji dan fanatisme tercela. Fanatisme dikatakan terpuji ketika seseorang memihak dan membela sesuatu karena kebenaran bukan karena hawa nafsunya semata. Sementara fanatisme tercela berarti memihak dan membela sesuatu mati-matian berdasarkan hawa nafsu semata; tanpa disertai kriteria logis atau agamis apapun.

Marilah kita simak pembahasan selengkapnya dalam bahasan utama ‘Itrah edisi ini. Selain itu, seperti biasa, kami juga telah menyajikan berbagai menu artikel yang semoga membawa pencerahan bagi kita semua.

Wassalamualaikum ww